Tuesday 7 April 2020 
qodsna.ir qodsna.ir

Dampak Perang Dua Hari Muqawama Palestina dan Israel

Perang antara kubu muqawama Palestina dan rezim Zionis Israel berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata.

Perang ini dimulai dengan agresi Israel ke Jalur Gaza dan pelecehan terhadap jenazah syuhada Palestina berusia 27 tahun dan respon tegas kelompok muqawama Palestina. Perang ini berlangsung kurang dari 48 jam, namun memiliki dampak penting.

Perang ini membuktikan bahwa rentang waktu Israel berperang melawan kelompok muqawama Palestina turun menjadi 48 jam. Israel November 2018 terlibat perang selama empat hari dan Mei 2019 terliban konfrontasi dengan pejuang Palestina selama dua hari. Sementara perang terbaru hanya berlansung kurang dari 48 jam.

Perang ini "serangan dibalas serangan" secara praktis membuktikan mengapa faksi muqawama Palestina bukan saja tidak mundur di hadapan serangan Israel, bahkan memberi balasan tegas, di mana kemarin malam sebanyak 25 roket kurang dari satu jam ditembakkan ke arah bumi pendudukan. Konstelasi serangan dibalas serangan menunjukkan kubu muqawama Palestina berada di posisi kesiapan yang mampu membalas setiap kejahatan rezim Zionis Israel.

Poin lainnya adalah konstelasi serangan dibalas serangan kian menguak kelemahan dan rentannya rezim penjajah Quds. Sejatinya konsetelasi ini kembali membuktikan bahwa militer rezim Zionis Israel bukan tentara terkuat di kawasan Asia Barat.

Alon Ben David, pengamat militer Israel terkait hal ini mengakui bahwa Israel dalam melawan muqawama Palestina sepenuhnya gagal. Ia mengungkapkan, jet-jet tempur Israel di babak perang kali ini berbeda dengan peristiwa pasca gugurnya Abu Ata, salah satu komandan Jihad Islam Palestina, tidak mampu menyerang pelontar roket muqawama.

Pesan lain perang ini adalah menunjukkan kembali arogansi dan sifat teroris rezim Zionis Israel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu setelah respon tegas faksi muqawama Palestina secara transparan kembali mengancam bahwa Tel Aviv akan kembali melancarkan kebijakan teror terhadap pemimpin muqawama. Netanyahu sebelumnya juga mengancam akan meneror para pemimpin muqawama Palestina.

Poin terakhir adalah perang ini dapat memiliki dampak penting bagi rezim Zionis terkait pembentukan kabinet mendatang. Ayman Odeh, ketua List Bersama Arab dan wakil Arab di Knesset mengatakan, "Di pemilu Knesset mendatang, dirinya tidak akan mendukung Netanyahu atau Gantz untuk menempati posisi perdana menteri, karena Benny Gantz tidak ingin mengakhiri penjajahan dan merealisaikan perdamaian. Sementara Netanyahu tetap melanjutkan serangan ke Jalur Gaza. Dan kami tidak akan pernah bekerja sama dengan pemerintahan yang menyerang Gaza."

Sejatinya jika Netanyahu sebelumnya berharap mendapat dukungan dari List Bersama Arab, kini melalui serangan ke Gaza, ia kehilangan dukungan ini. Dan kondisi seperti ini sama halnya dengan berlanjutnya instabilitas politik di bumi pendudukan Palestina. 




Users Comments

Videos

Qods News Agency


©2017 Kantor Berita Qods. All Rights Reserved