Monday 26 August 2019 
qodsna.ir qodsna.ir

Sudah Waktunya Suriah Aktifkan S-300 Rusia

Raialyoum menukil analisa kepala editornya, Abdel Bari Atwan, dalam salah satu laporannya dan menjelaskan tibanya waktu Suriah untuk menjawab aksi provokatif Israel. “Seperti yang direspon Iran”, kira-kira Abdel Bari Atwan.

Mata dunia saat ini tertuju pada perselisihan Iran-Amerika Serikat atau Teluk Persia. Pasca drone spionase AS diledakkan di wilayah Hormuz, Israel bertindak semena-mena di wilayah Suriah. Tidak ada beda bagi rezim Zionis, sipil maupun militer. Homs dan Damaskus menjadi fokus invasi dan menjatuhkan 15 korban anak-anak dan sipil.

 

Pesawat tempur rezim Zionis memang tidak mengangkangi wilayah perbatasan Suriah, tetapi mereka meluncurkan rudal dari wilayah udara Libanon. Wilayah udara Beirut dijadikan pelantara sehingga tidak mengorbankan pesawat tempur kesayangan, yang pernah ditembak jatuh oleh sistem pertahanan made in Rusia, S-200.

 

“Serangan ini telah menekan para sekutu Suriah. Karena invasi dilaksanakan setelah lewat beberapa hari pertemuan segitiga, Penasehat Keamanan Nasional Rusia, AS dan rezim Zionis yang membahas Iran”, jelas Atwan.

 

Berdasarkan laporan sumber pertama, Nikolai Patrushev, Penasehat Keamanan Nasional Rusia yang menjadi delegasi Rusia dalam pertemuan di Yerusalem, telah menghardik AS dan Israel bahwa Iran adalah sekutu Moskow.

 

“Menuduh dan mengkambinghitamkan Iran di Kawasan tidak dapat diterima, karena Iran adalah sahabat energik memberantas teroris”, jelasnya.

 

“Pesan dalam pernyataan Patruchev adalah pendapat Rusia tidak sesuai dengan kacamata sekutu AS dan Israel-nya yang bertujuan mengusir Teheran dari Damaskus. pertemuan Putin, Erdogan dan Rouhani jelas untuk merespon keras pertemuan segitiga di Yerusalem tersebut”, hemat analis kondang Timteng tersebut.

 

“Suriah memiliki sistem pertahanan udara Rusia, S-300, yang memiliki kecanggihan serta detail lebih dari generasi sebelumnya. Tetapi hingga saat ini, sistem tersebut belum diaktifkan untuk menghalangi tempuran Israel.

 

Menyelidiki kepingan-kepingan hancur di daerah Nicosia menunjukkan bahwa Suriah masih menggunakan sistem pertahanan S-200. Ini berarti bahwa Rusia masih belum mengeluarkan izin untuk mengaktifkan sistem S-300 untuk menjawab segala serangan Israel”, lanjutnya.

 

Mengenai alasan perizinan yang belum keluar, Atwan menjelaskan bahwa ia masih belum ada kabar. “Yang Kami tahu, S-300 sudah dikirim ke Damaskus”, jelasnya.

 

Maka pertanyaannya sekarang bagi Raialyoum adalah sampai kapan Rusia akan membatasi sistem ini? Karena dalam pandangan beberapa pengamat, tidak adanya izin ini sejalan dengan strategi Israel, yaitu ada kesepakatan di balik layar.

 

Atwan melanjutkan, “Menyalahgunakan wilayah Libanon untuk menembak Suriah juga satu hal yang tidak dapat diterima. Itu harus segera dihentikan dengan mengizinkan Suriah melewati perbatasan Libanon dengan menggunakan S-300 sehingga mampu menembak jarak lebih dari 300 km, jadi jauh dari wilayah Libanon”.

 

Tentang tujuan di balik serangan Israel ini, Abdel Bari Atwan mengamatinya sebagai provokasi kepada dua pihak, Iran dan Suriah, untuk menembak jantung rezim Zioniz. “Tujuan Israel dari serangan ini adalah provokasi Suriah dan Iran untuk menyerang jantung Zionis. Menarik mereka pada perang yang lebih luas. Benjamin Netanyahu, PM Israel, berasumsi bahwa Ia akan tarik paksa dua Negara Kawasan ini sebagai penyulut perang Timteng dan melempar tanggung jawab ke pundak Iran-Suriah”, jelasnya.

 

“Waktu merespon Israel sudah dekat. Kapanpun bisa terjadi. Itupun akan terjadi dengan dukungan Rusia”, yakin Raialyoum.

 

“Mereka menghina Iran yang diam atas kebrutalan Israel. Di sinilah titik kesalahan analisis mereka. Iran sudah merespon aksi Israel-AS dengan menembak jatuh drone mata-mata tanpa ampun hanya beberapa meter setelah melewati wilayah perbatasan udara Iran”, tegas Raialyoum.

 

“Beberapa laporan menjelaskan bahwa Netanyahu-lah yang menelpon Trump agar segera mundur dan tidak merespon keras tembakan tersebut, karena Israel takut dan tidak akan mampu menamengi serangan puluhan rudal sekaligus dari arah Teheran. Iran sudah menjawab dengan sangat tepat dan tanpa ragu. Suriah juga bisa membalas Israel dengan hal serupa, bahkan lebih kuat. Hanya waktu yang bisa menjawab. Sebagaimana respon Iran telah membungkam semua mulut, respon Suriah juga bisa memotong lidah mereka”, jelas Raialyoum.

 

Di akhir Raialyoum menulis, “Negara yang kuat bertahan melawan intervensi 70 negara koalisi pimpinan AS. Mampu membersihkan mayoritas wilayahnya dari cengkraman musuh. Yakin Ia akan menjawab serangan Israel. Khususnya setelah kalkulasi waktu yang sangat menguntungkan Mukawamah”.




Users Comments

Videos

Qods News Agency


©2017 Kantor Berita Qods. All Rights Reserved