Saturday 23 October 2021 
qodsna.ir qodsna.ir

Kebingungan AS Soal Penarikan Pasukan dari Suriah

Sekalipun Donald Trump Presiden Ameriia Serikat telah mengumumkan tentang penarikan pasukan AS dari Suriah pada 19 Desember 2018, tapi pernyataan dan sikap kontroversial para pejabat AS menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang masalah ini dan bahkan bagaimana hal itu diwujudkan.

Kantor Berita Qods (Qodsna) - Dalam hal ini, Trump yang pertama kali menekankan penarikan pasukan AS dari Suriah dalam 30 hari, menambah periode penarikan menjadi 120 hari karena pertimbangan politik dan militer.

 

Namun, dimensi dan cara pelaksanaan penarikan pasukan ini masih belum jelas. Dalam hal ini, saluran televisi NBC Amerika, mengutip sumber-sumber dari pemerintah AS, melaporkan bahwa Washington, setelah menarik tentaranya dari Suriah utara, berencana untuk mengerahkan sebagian pasukannya ke wilayah selatan negara itu tanpa batas waktu dan dijadwalkan untuk menjadi bagian pasukan AS yang akan dikirim ke Irak setelah meninggalkan Suriah.

 

Ini menunjukkan bahwa terlepas dari tuntutan Trump untuk penarikan penuh pasukan Amerika dari Suriah, tim keamanan Gedung Putih rupanya berhasil membujuknya untuk tetap melanjutkan penempatan pasukan AS di Suriah.

 

Faktanya, pejabat senior intelijen Amerika Serikat, khususnya John Bolton, seorang penasihat keamanan nasional, menentang rencana Trump dengan mencermati tujuan kehadiran AS di Suriah.

 

Namun, Trump bersikeras pada implementasi penarikan mundur pasukan AS dari Suriah.

 

The Washington Post pada 5 Januari menulis bahwa Trump menentang usaha bersama antara John Bolton, Penasihat Keamanan Nasional dan Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk menunda penarikan pasukan AS dari Suriah.

 

Dengan cara ini, sekarang jelas bahwa ada kesenjangan antara Trump dan Tim Keamanan Nasional Gedung Putih soal Suriah. Namun, meskipun keberatan ini, Trump dengan kepribadiannya bersikeras menjalankan keputusannya.

 

Sementara itu, masalah penarikan pasukan AS dari Suriah telah reaksi negatif oleh banyak politisi Amerika, termasuk anggota senior Republik dan beberapa lembaga think tank.

 

Menurut David Hendrickson, analis politik di situs The American Conservative, "Trump melukai rencana neo-konservatif untuk menggunakan Kurdi sebagai alat penekan terhadap Ruti dan Iran dengan keputusan yang diambil untuk menarik pasukan Amerika dari Suriah.

 

Mengingat meningkatnya oposisi dan implikasi negatif dari penarikan pasukan AS dari Suriah oleh oposisi, sekarang terbukti bahwa Amerika Serikat secara umum tidak memiliki niat untuk menarik diri sepenuhnya dari Suriah dan bahkan pada saat ini, mereka menjadikan alasan untuk intervensi militer atau bahkan serangan militer terhadap Suriah.

 

Dalam hal ini, John Bolton, Penasihat Keamanan Nasional AS berpendapat bahwa tidak ada perubahan dalam garis merah Amerika di Suriah, termasuk dugaan penggunaan senjata kimia oleh tentara Suriah.

 

John Bolton di akun Twitter-nya menulis, "Tidak ada perubahan dalam sikap Amerika mengenai penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah. Penggunaan kembali senjata ini akan dikenakan reaksi cepat dan kuat."

 

Klaim itu muncul pada saat pemerintah Suriah telah bergabung dengan Konvensi Senjata Kimia sejak 2013 dan gudang senjata kimianya telah dimusnahkan di bawah pengawasan PBB.


Sebenarnya, kelompok-kelompok teroris teroris inilah yang didukung Amerika Serikat yang dalam beberapa tahun terakhir telah menggunakan senjata kimia di beberapa daerah Suriah, dimana Barat, utamanya Amerika Serikat acuh tak acuh dengan masalah ini.

 

Pemerintahan Trump tampaknya hanya memindahkan sebagian pasukannya dari Irak ke Suriah daripada menyelesaikan keluar secara komprehensif dari Suriah dan akan terus mempertahankan peluangnya untuk melakukan intervensi militer di Suriah.




Related Contents

Myanmar Larang Petinggi PBB Kunjungi Rakhine

Myanmar Larang Petinggi PBB Kunjungi Rakhine

Salah satu staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengkonfirmasikan sikap pemerintah Myanmar yang memperlambat kunjungan delegasi PBB ke negara bagian Rakhine di barat negara ini.

|

Users Comments

Analisa
Videos

Qods News Agency


©2017 Kantor Berita Qods. All Rights Reserved