Monday 9 December 2019 
qodsna.ir qodsna.ir

Keruntuhan Tertunda Rezim Zionis

Benyamin Netanyahu, PM Israel, akhirnya berhasil menunda keruntuhan kabinet dan menghindar dari pemilihan dini.  Dua Menteri Israel, beberapa hari yang lalu, melaporkan bahwa mereka akan tetap tinggal di kabinet serta mendukung Netanyahu. Sedikit mengundur Pemilu dini.

Kantor Berita Qods (Qodsna) - Naftali Bennett, Mendik Israel, beserta Ayelet Shaked, Menteri Kehakiman, adalah salah satu pondasi kabinet Israel. Dalam sesi wawancara, mereka menegaskan dukungannya kepada Benyamin Netanyahu. Tapi mereka memberikan sebuah syarat bahwa untuk selanjutnya, kabinet koalisi harus lebih condong ke sayap kanan.

 

“Jika akhirnya, kita memulai jalan baru dan berkerja sebagai sayap kanan, maka kabinet ini harus dibela”, jelas Bennett. Dalam kesempatan ini dia juga menuntut sebuah sikap tegas dan keras untuk melawan Hamas.

 

“Ketika Israel ingin menang, kita akan mendukungnya… Kita mendukung Netanyahu dan kita akan membantunya untuk meraih kemenangan agung ini”, tambahnya.

 

Naftali Bennett sempat meminta kursi menteri pertahanan. Saat itu, ia menggertak keluar dari kabinet koalisi, bahkan mengancam akan meruntuhkan kabinet. Sebelumnya Netanyahu mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa Kemenhan akan ia tangani sendiri meskipun Kabinet akan runtuh. Senin pagi, PM Netanyahu melontarkan protes kepada Naftali Bennett. “Sikap Naftali Bennett sangat tidak rasional di saat stabilitas rezim Zionis terancam”, kritiknya.

 

Untuk pertama kalinya, Benyamin Netanyahu menghadiri Komite bagian perhubungan luar negeri dan pertahanan Knesset sebagai Menhan. “Apakah koalisi kita menghendaki keruntuhan kabinet? Atau tidak. Kita akan terus melanjutkan langkah penyelamatan rakyat. Kebijakan ini akan dilaksanakan dengan serius”, jelasnya dalam gedung Knesset.

 

Sejak dibentuknya kabinet baru tahun 2015, kabinet kembali merasakan bahaya tumbang. Sebelumnya Moshe Ya’alon, mantan Menhan Israel, juga mundur dari kabinet. Dan Avigdor Lieberman masuk sebagai juru penyelamat. Namun mundurnya Lieberman, karena genjatan senjata dengan Gaza, membuat banyak pihak menanti penyelenggaraan Pemilu dini.

 

Lieberman, yang memimpin partai Yisrael Beiteinu memiliki 6 kursi di Knesset, berhasil meningkatkan jumlah koalisi Netanyahu dengan seluruh partai menjadi 67 kursi. Namun kini ketika Lieberman mundur, hanya 61 kursi dari 120 kursi Knesset yang tersisa untuk Netanyahu.

 

Krisis ini dimulai sejak mobil baja Israel memasuki wilayah Khan Yunis di Jalur Gaza. Satu komando militer Hamas, Nour Baraka, meninggal waktu itu. Tapi Hamas juga berhasil menembak tewas Komando dari pihak Israel. Selanjutnya, pertempuran tak bisa dihindari. 12 november, Hamas meluncurkan 400 rudal ke jantung Israel. Dalam serangan ini, Iron Dome, sistem pertahanan Israel, hanya berhasil menembak jatuh 100 rudal sedangkan rudal Hamas yang lain tepat sasaran. Dan Israel membalasnya dengan membidik 100 daerah sasaran.

 

Melihat situasi Hamas di atas awan, Israel membujuk Mesir untuk menjadi lidah penyambung genjatan senjata. Genjatan senjata berjalan, Avigdor Lieberman mundur.

 

“Keputusan ini sudah dibicarakan dengan Departemen Keamanan Israel. Saya tahu apa yang harus dilakukan. Saya harap semua pihak menampakkan tanggung jawab dan tidak menghancurkan kabinet”, mohon Netanyahu kala itu.

 

“Sebelumnya, Netanyahu sudah mencicipi krisis kabinet, tapi tidak sampai mengancam kedudukannya. Netanyahu selalu berjanji akan mempertahankan kursinya hingga 2019 dan Pemilu akan datang. Namun situasi tidak banyak mendukung. Jika elemen-elemen koalisi sepakat untuk menyelenggarakan Pemilu dini, maka Pemilu harus diselenggarakan di akhir bulan februari atau awal maret, karena berdasarkan undang-undang Pemilu harus diselenggarakan antara 3-5 bulan ke depan” jelas CNN.

 

Satu krisis lain juga mencekik rezim Zionis. Adalah kasus korupsi Netanyahu. Masalah ini juga mengancam kursi kekuasaan sang PM. Polisi Israel melaporkan, “Ada cukup bukti untuk menjadikan Netanyahu tersangka kasus suap, penipuan serta korupsi”. Oleh karena inilah, Netanyahu terus berupaya mengamankan kursi dan kabur dari kasus ini. Mungkin kursi Perdana Menteri yang menyelamatkan Netanyahu dari borgol polisi. Ketika periode Netanyahu berakhir, dengan alasan apapun, maka kita harus menunggu putusan pengadilan. Sama seperti nasib mantan PM Israel Ehud Olmert.

 

Tetapi banyak pihak yang yakin bahwa ada satu indikasi, yaitu Netanyahu akan menjadi korban genjatan senjata. Kendati ia berhasil menyelamatkan kursi Perdana Menteri, namun sangat sulit untuk melewatkan satu tahun dengan satu kursi tersisa. Kini anggota koalisi berfikir untuk menyelenggarakan pemilu secepat mungkin agar pisah jalan dengan Netanyahu. Kecuali Netanyahu berhasil keluar dengan nafas lega, tetapi harus diperhatikan bahwa kebijakan terakhir Netanyahu hanya membuka satu jalan penyelamatan yaitu mengundur keruntuhan kabinet.




Related Contents

Hamas Puji Malaysia Larang Masuk Atlet Israel

Hamas Puji Malaysia Larang Masuk Atlet Israel

Kepala Biro Politik Hamas menilai langkah Malaysia melarang masuk kontingen atlet rezim Zionis Israel ke negara itu sebagai puncak solidaritas Malaysia terhadap rakyat Palestina dalam melawan rezim Zionis.

|

Jerusalem Post: Dekat Pemilu Israel-Turki Biasanya Tegang

Jerusalem Post: Dekat Pemilu Israel-Turki Biasanya Tegang

Salah satu surat kabar rezim Zionis Israel menyebut adu mulut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir sengaja dilakukan untuk kepentingan pemilu kedua pihak.

|

Elit Politik AS Desak Khalid bin Salman Mengundurkan Diri

Elit Politik AS Desak Khalid bin Salman Mengundurkan Diri

Mantan duta besar AS di Riyadh seraya mengkritik pendekatan Gedung Putih terkait pembunuhan Jamal Khashoggi, wartawan dan kritikus Arab Saudi mengtakan, Khalid bin Salman, dubes Saudi di Washington harus mengundurkan diri dari posisinya.

|

Users Comments

Videos

Qods News Agency


©2017 Kantor Berita Qods. All Rights Reserved