Sunday 5 December 2021 
qodsna.ir qodsna.ir

Di Balik Pertemuan Panglima Militer AS dengan Raja Yordania dan Bahrain

Jenderal Mark Milley, panglima militer Amerika Serikat pada 19 Agustus 2018 bertemu dengan Raja Yordania, di Amman. Panglima Angkatan Darat AS itu juga bertemu dengan Mahmud Abdul Halim Ferihat, Kepala Staf Gabungan MIliter Yordania. Sementara itu, Scott Stern, Panglima Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat, pekan lalu juga bertemu dengan Hamad bin Isa Al Khalifa, Raja Bahrain.

Pertanyaannya adalah, apa tujuan pertemuan para panglima militer AS di Bahrain dan Yordania tersebut? Tampaknya selain menekankan tujuan-tujuan hubungan bilateral, pertemuan tersebut juga mengacu tujuan lain, dengan mempertimbangkan beberapa faktor. Faktor pertama, berhubungan dengan transformasi regional saat ini. Tujuan Amerika Serikat dalam krisis Suriah dan Irak tak kunjung tereliasasi. Amerika Serikat di krisis Suriah menginginkan penggulingan rezim Bashar al-Assad dengan mendukung kelompok-kelompok teroris. Namun hal tersebut tdak kunjung terealisasi.

 

Sekarang pemerintah AS dalam krisis Suriah berniat mencegah keberhasilan militer Suriah dan sekutunya untuk membebaskan berbagai wilayah di selatan negara tersebut dari pendudukan kelompok teroris. Yordania sangat penting bagi Amerika Serikat dalam hal ini, karena memiliki perbatasan kolektif dengan Suriah. Geografi Yordania dalam beberapa tahun terakhir dimanfaatkan untuk anti-keamanan Suriah. Belakangan, pergerakan militer AS meningkat dan Yordania tetap memainkan peran penting akibat ketergantungan keamanannya pada Amerika Serikat.

 

Faktor kedua adalah bahwa pemerintah AS sedang menggulirkan perang proxy di Timur Tengah dan dalam perang tersebut AS tidak menanggung beban ekonomi melainkan dilimpahkan kepada negara-negara Arab. Dalam hal ini, pangkalan militer AS di negara-negara Arab termasuk Yordania dan Bahrain akan memainkan peran sangat determinan.

 

Pada hakikatnya, para panglima militer AS dalam pertemuan dengan para Raja Yordania dan Bahrain, ingin memastikan kepada mereka soal keamanan tahta mereka dan memanfaatkan keunggulan geografis kedua negara tersebut untuk mewujudkan kepentingan Amerika Serikat. Kepentingan Washington di kawasan tidak pernah terlepas dari disintegrasi negara-negara regional, anti-poros muqawama dan juga perlindungan terhadap rezim Zionis Israel.

 

Faktor ketiga adaah langkah praktis Amerika Serikat untuk mencegah pengokohan muqawama di Timur Tengah. Pemerintah AS selain mempertahankan dan memperkokoh pangkalan-pangkalan militernya di kawasan juga sedang mengupayakan kehadiran militer di negara-negara lain dengan alasan pemberantasan terorisme. Dalam hal ini, pemerintah dan rakyat Irak menuntut keluarnya militer AS dari negara mereka, akan tetapi Brigadir Jenderal Sean Ryan, juru bicara pasukan koalisi anti-Daesh (ISIS) yang dipimpin Amerika Serikat pada 19 Agustus dalam sebuah konferensi pers mengatakan, “Sebab utama berlanjutnya kehadiran militer AS di Irak pas kekalahan Daesh, adalah upaya untuk mewujudkan stabilitas.”

 

“Mewujudkan stabilitas” adalah alasan yang dikemukakan militer AS untuk menjustifikasi kehadiran militernya, akan tetapi alasan sejatinya adalah mencegah pengokohan posisi dan pengaruh poros muqawama (resistensi) di kawasan Timur Tengah.




Users Comments

Analisa
Videos

Qods News Agency


©2017 Kantor Berita Qods. All Rights Reserved