Saturday 27 November 2021 
qodsna.ir qodsna.ir

Tragedi Gaza, Dampak Politik Pro-Israel Trump

Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza sudah sedemikian parah sehingga Komisaris Tinggi Dewan HAM PBB menilai kondisi di Jalur Gaza telah mencapai titik tragedi.

Zedi Raad al-Hussein, pada sidang komite hak-hak tidak dapat diganggu-gugat bangsa Palestina di markas besar PBB, menyinggung buruknya kondisi di Jalur Gaza akibat krisis finansial lembaga penyalur bantuan untuk pengungsi Palestina UNRWA serta berbagai batasan yang diberlakukan rezim Zionis Israel terhadap Jalur Gaza.

 

Rezim Zionis telah memblokade Jalur Gaza sejak 2006, menyusul kemenangan Hamas dalam pemilu parlemen di Jalur Gaza. Sejak saat itu, wilayah Gaza dicegah mengakss bahan kebutuhan pokok termasuk bahan bakar, makanan, obat-obatan dan bahan bangunan.

 

Blokade tersebut telah menimbulkan berbagai masalah dan krisis di wilayah yang sesak dengan warga Palestina dan pengungsi. Saat ini warga Gaza menghadapi kekurangan pangan, kelaparan, krisis obat-obatan dan berbagai masalah ekonomi, pengangguran, kemiskinan dan penyakit. Selain blokade, Jalur Gaza juga menghadapi bahaya bombardir rutin yang dilakukan rezim Zionis Israel.

 

Mematahkan perlawanan Palestina dan pemaksaan agar mereka menyerah di hadapan dikte perdamaian yang terangkum dalam "Kesepakatan Abad" merupakan di antara tujuan utama Israel memblokade dan menyerang Jalur Gaza. Meski demikian, harus diketahui bahwa masalah yang dihadapi Jalur Gaza saat ini bukan hanya ditimbulkan oleh blokade saja .

 

Menipisnya bujet UNRWA karena dipotong dari Amerika Serikat juga memperburuk kondisi di Jalur Gaza. Washington pada 16 Januari, memangkas 65 juta dolar atau lebih dari separuh bantuan tahunannya kepada UNRWA dengan alasan kinerja lembaga ini perlu direvisi. Pengurangan bujet UNRWA telah memaksa berkurangnya bantuan kemanusiaan untuk warga Jalur Gaza.

 

Langkah Washington itu dilakukan di saat para pejabat Israel termasuk PM Benjamin Netanyahu, menuntut pembubaran lembaga tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, dukungan Presiden AS Donald Trump terhadap politik agresif Israel telah meningkatkan kesulitan yang dihadapi warga Palestina.

 

Ketika Trump getol berbicara HAM dan perdamaian, namun pada saat yang sama AS meningkatkan dukungan terhadap Israel dan memangkas bantuan untuk UNRWA. Tidak hanya itu, Amerika Serikat juga keluar dari Dewan HAM PBB dan UNESCO.

 

Secara unilateral, Amerika Serikat mengakui al-Quds sebagai ibukota Israel dan meski mendapat penentangan internasional, Washington merelokasi kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke kota Quds.




Users Comments

Analisa
Videos

Qods News Agency


©2017 Kantor Berita Qods. All Rights Reserved