Wednesday 19 December 2018 
qodsna.ir
qodsna.ir

Ilusi Trump; Perubahan
Perilaku Iran hadap
Tekanan AS

Oleh: K.Mahdi

Pasca peristiwa 11 September, Amerika Serikat mengirim pasukan militernya ke negara-negara yang jauh dengan alasan menciptakan keamanan dan menghadapi segala ancaman. Amerika juga mengklaim bahwa menciptakan perdamaian dan keamanan sebagai tanggung jawab globalnya.

 

Sebenarnya, Amerika berbicara tentang perdamaian dan keamanan yang mana? Keamanan seperti apa yang dihasilkan dengan pendudukan Afghanistan pasca persitiwa 11 September dan invasi Irak? Apakah mendukung kejahatan Israel di Gaza dan memprovokasi Arab Saudi untuk melanjutkan perang dan pembunuhan perempuan dan anak-anak setiap hari di Yaman dengan senjata yang disumbangkan oleh Barat ke Arab Saudi sebagai tanggung jawab global?

 

Arti sebenarnya dari intervensi AS, haus untuk mengancam dan militerisme adalah rasa supremasi dan penunjukan ambisi Amerika. Sekaitan dengan hal ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengklaim bahwa tekanan AS pada akhirnya akan mengubah perilaku Iran.

 

"Mereka berusaha mempertahankan kesepakatan nuklir, tetapi saya akan memberitahu Anda bahwa mereka akan segera kembali dan akan bernegosiasi dengan kami untuk kesepakatan yang lebih baik dan kami akan mencapai kesepakatan ini," ungkap Trump.

 

Pernyataan Trump berasal dari kebodohan, ketidakstabilan pribadinya atau sikap pemerasan. Pengalaman menunjukkan bahwa tujuan Amerika adalah ingin mendominasi bangsa Iran. Tapi yang tampak, ilusi Trump semakin menguasai dirinya dan menghubungkan semuanya dengan kata "harus". Padahal sejarah arogansi Amerika telah berakhir.

 

Stephen Walt, pakar hubungan internasional dan dosen Universitas Harvard mengatakan, ...tindakan Trump mengingatkan kelompok mengkhawatirkan yang dapat membahayakan peran para kepala negara dalam mengambil keputusan soal kebijakan luar negeri.

 

Trump perlu lebih sedikit realistis untuk memahami imajinasi ambisius dan penilaian ilusinya tentang apakah Iran akan menyerah atau bersedia bernegosiasi dengan Amerika Serikat serta melakukan perubahan sesuai keinginan AS dalam kebijakan regional Iran hanyalah mimpi yang tidak akan pernah terjadi.

 

Beberapa dekade sebelumnya, Iran tidak pernah takut Amerika Serikat baik ketika menghadapi poros kejahatan Bush  atau di periode Obama. Iran tidak pernah meyakini kebijakan perubahan perilaku yang diinginkan Amerika.

 

Brigjen Hossein Dehghan, Penasihat Panglima Tertinggi Seluruh Jajaran Angkatan Bersenjata Iran urusan Industri Pertahanan dan Logistik Militer Iran terkait pernyataan Donald Trump mengatakan, sejak kemenangan Revolusi dan pembentukan Republik Islam di Iran, setiap kali Amerika menekan, tekanan ini justru berbalik dan mereka tidak mencapai tujuan dari upayanya. Selain itu, bangsa Iran malah semakin kokoh dan tercerahkan serta minat dan komitmen rakyat terhadap cita-cita revolusi juga semakin meningkat.

 

Jika Trump memiliki sedikit kesadaran politik, dia harus memahami bahwa bahkan negara-negara lemah di dunia pun tidak bersedia menyerahkan diri kepada mereka yang tidak komitmen dengan janjinya untuk menjamin menjamin keamanan negaranya.

 

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran baru-baru ini dalam pidatonya saat bertemu dengan ribuan mahasiswa dan dosen, menyinggung berlanjutnya kebusukan semua pejabat Amerika pasca kemenangan Revolusi Islam. Rahbar mengatakan, mereka yang melakukan permusuhan terhadap rakyat Iran sekarang tulang belulang mereka berada di bawah tanah, sementara Republik Islam tetap berdiri tegar. Suatu hari orang ini (Trump) akan diantar ke bawah tanah, tetapi Republik Islam akan terus berdiri dan jaya.




Users Comments

Videos

Qods News Agency


©2017 Kantor Berita Qods. All Rights Reserved