Friday 21 September 2018 
qodsna.ir
qodsna.ir

Kerinduan Shalat di al-Aqsha Hancurkan Derita di Pos-pos Militer

Di bulan Ramadhan, warga Palestina kembali merindukan shalat di masjid al-Aqsha dan mengunjungi kota suci al-Quds. Kerinduan itu semakin bertambah setiap kali mendengar kisah kenangan orang-orang yang pernah shalat di masjid al-Aqsha dan berharap bisa mengulang kembali peristiwa bersejarah tersebut.

Kegembiraan luar biasa yang tidak bisa digambarkan oleh Tima Amer, wanita asal propinsi Nablus, wilayah utara Tepi Barat, ketika orang-orang menyampaikan kepadanya bahwa dia akan shalat di al-Quds. “Saya tidak percaya ketika mereka mengatakan bahwa saya akan shalat di al-Quds. Sudah 22 tahun saya menunggu momen itu, seteh saya berusaha lebih dari 10 kali untuk mendapatkan izin agar bisa masuk namun ditolak karena alasan keamanan,” tuturnya.

 

Perasaan campur aduk Kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, Tima Amer mengatakan, "Saya merasa bahwa saya berada dalam mimpi yang akan berakhir kapan saja. Waktu kepergian saya tergantung dengan izin beberapa jam saja."

 

Dia melanjutkan, "Ketika saya tiba di masjid Al-Aqsha, saya merasakan perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan. Bercampur aduk antara perasaan gembira sedih, kemudian saya merasa tertindas. Setiap tempat yang saya berdiri di di atasnya, telah saya saksikan di televisi. Memori saya kembali teringat penyerbuan-penyerbuan Israel ke pelataran masjid Al-Aqsha, yang dulu hanya saya saksikan di televisi, dan sekarang saya melihatnya di dua nyata tanpa pembatas yang menghalangi."

 

Amer menceritakan bahwa kunjungannya ke al-Quds tidaklah biasa. Dia berjalan-jalan di antara gang kuno kota al-Quds untuk mengenal sejarah kota al-Quds. Dia berjalan di pasar-pasar kuno yang bersejarah dan berbicara dengan penduduknya yang mengalami pelecehan dan penindasan setiap harinya.

 

Sementara itu adik pemerempuan yang menyertainya (18) menuturkan, “Itu adalah kunjungan pertama, saya merasa sangat bahagia. Namun saya sedih dengan apa yang terjadi di al-Quds dan masjid al-Aqsha, di mana penjajah Zionis menggencarkan rencana yahudisasinya di kota al-Quds.”

 

Dia menambahkan, “Al-Quds sekarang berduka karena jumlah jamaah yang shalat sedikit. Dia menyerukan semua kaum muslimin untuk shalat di al-Quds dan menekankan perjalanan ke al-Quds selama bulan Ramadhan.”

 

Senyum dan kebahagiaan belum lepas dari hati Wala Muhammad, asal desa Jurisy di pinggiran Nablus, setelah kunjungan pertamanya ke al-Quds. Dia menegaskan bahwa kebahagiaannya itu tidak ada bandingannya dengan perjalanan ke tempat manapun di dunia ini, meski itu adalah tempat paling indah.

 

Dia menuturkan, meskipun berbagai upaya dilakukan penjajah Zionis selama bertahun-tahun sebelumnya, dia tidak pernah kehilangan harapan untuk mendapatkan izin memasuki al-Quds.

 

Meskipun jarak antara Nablus dan al-Quds sekitar 69 kilometer, yang biasanya membutuhkan waktu satu jam untuk melakukan perjalanan antara kedua kota tersebut, namun dalam situasi saat ini dibutuhkan 3-4 jam karena prosedur sulit yang diberlakukan penjajah Zionis, juga karena ada tembok pemisah rasial dan gerbang-gerbang pemeriksaan yang sudah diberlakukan sejak bertahun-tahun.

 

Pos-pos pemeriksaan keamanan

Perjalanan antara Nablus dan al-Quds harus melewati lima pos pemeriksaan utama. Yaitu pos militer Za’tara, pos militer Beit El, pos militer Qalindia, pos militer Jaba dan pos militer Hawara. Ditambah pos pemeriksaan skunder di antaranya adalah pos militer Ofrah dan pos militer Ain Yabrud. Prosedur keamanan yang paling ketat dan paling berat terjadi di pos pemeriksaan Qalindia, berupa dua gerbang untuk perempuan dan untuk laki-laki. Belum lagi dengan pos pemeriksaan ekeltronik.

 

Penjajah Zionis memasang puluhan kamera pengawas mulai dari pos militer Qalindia hingga masuk ke gerbang masjid al-Aqsha. Beberapa dipasang di udara atau helikopter yang mengawasi pergerakan keluar dan masuk sepanjang waktu.

Menurut warga, pertama kali masuk ke pos Qalindia, mereka dipaksa untuk berbaris berdasarkan usia dan kemudian masuk melalui beberapa pos polisi, dilakukan pemeriksaan identitas untuk melihat usia. Bagi laki-laki yang berusia di atas 40 tahun diizinkan lewat dan selebihnya adalah kepemilikan izin untuk masuk. Kemudian mereka pindah ke ruang khusus untuk pemeriksaan fisik, seringnya pemeriksaan dilakukan melalui sensor khusus untuk memeriksa barang-barang.

 

Usai prosedur tersebut, warga diangkut ke halte berikutnya dengan bus-bus khusus yang membawa penumpang langsung ke daerah dekat dengan gerbang al-Amud untuk warga dari Tepi Barat utara, masuk di depan tatapan mata ratusan tentara Israel ke Kota Tua dan kemudian ke masjid Al-Aqsha.

 

Sementara itu para pemuda dihentikan di pos-pos pemeriksaan  berjalan di jalan-jalan Kota Tua dan gerbang masjid Al-Aqsha.




Users Comments

Videos

Qods News Agency


©2017 Kantor Berita Qods. All Rights Reserved